Petualangan Sehari di Islamabad

Tulisan ini sebelumnya terbit dalam Majalah Lentera edisi I, Januari 2018

Pada tanggal 2-7 Agustus 2017 lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi Islamabad, Pakistan. Perjalanan ini cukup menarik minat saya karena ia merupakan kali pertama saya berkunjung ke Asia Selatan. Tujuan saya di Islamabad adalah untuk menghadiri konferensi perdamaian yang diadakan oleh PUAN (Pakistan-US Alumni Network) dan Kedutaan Amerika Serikat di Pakistan. Saya hadir bersama dua orang peserta lainnya yang diundang dari Indonesia: Badrus Sholeh dari UIN Jakarta, Alijah Diete dari Yayasan Prasasti Perdamaian.

Setelah menempuh perjalanan tiga jam dari Jakarta ke Bangkok, kami melanjutkan penerbangan hampir enam jam menuju Islamabad. Kami sampai di Bandara Internasional Benazir Bhutto pada tengah malam. Bandara dengan fasilitas yang sangat terbatas dan menurut saya cenderung tidak dikelola dengan profesional, buktinya terjadi empat kali mati lampu di bandara ini ketika saya pulang kembali ke Bangkok. Kami pun dijemput oleh pihak Marriott Hotel, tempat konferensi akan dilaksanakan.

Perkiraan saya tentang situasi keamanan di Islamabad terbukti: kami melewati jalan tol dengan tiga portal yang dijaga aparat membawa senjata laras panjang. Hal yang tak kalah menegangkan kami alami ketika tiba di depan pintu gerbang hotel. Sebanyak empat orang aparat bersenjata memeriksa mobil yang kami tumpangi. Mereka membuka kap mesin depan, bagasi belakang dan bagian bawah mobil. Maklum saja, hotel yang akan kami tempati pernah diserang bom mobil pada 2008.

Setelah konferensi yang berlangsung hingga tanggal 6, saya otomatis hanya memiliki satu hari yang lowong untuk mengunjungi berbagai tempat menarik di Islamabad. Atas bantuan seorang teman Indonesia yang pernah tinggal di Islamabad, saya dijemput oleh Abdullah, teman Indonesia lain yang sedang belajar di IIUI (International Islamic University of Islamabad). Saya berangkat bersama Abdullah dengan memakai motor dari hotel menuju kampus utama IIUI. Hal yang menarik di Islamabad adalah anda tidak diwajibkan untuk memakai helm jika anda hanya penumpang.

 

Syuaib dan tipikal motor di Islamabad
Sahabat baru saya Syuaib dan tipikal motor di Islamabad, Pakistan. Syuaib adalah mahasiswa asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang belum pernah pulang setelah 8 tahun menempuh studi di IIUI Pakistan

 

Setelah kurang lebih 30 menit melalui jalan-jalan Islamabad yang lebar dan indah, akhirnya tibalah saya di kampus lama IIUI. Abdullah mengajak saya ke kantin asrama mahasiswa IIUI untuk bertemu dan berdiskusi singkat dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang lain. Dikarenakan cuaca yang panas, kami beristirahat sebentar di kamar milik Syuaib, mahasiswa asal Bulukumba yang telah 8 tahun di Islamabad. Saya berkenalan pula dengan Firos asal Jakarta yang baru saja menyelesaikan S1 bidang Islamic Studies.

Setelah salat zuhur, saya bersama Syuaib dan Firos berangkat ke tujuan pertama kami yaitu Daman-e-Koh, sebuah puncak bukit yang terletak di Margalla Hills National Park di bagian utara kota Islamabad. Daman-e-koh adalah tempat paling tepat untuk melihat kota Islamabad dari titik ketinggian. Dari sana, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Pir Sohawa yang letaknya lebih tinggi. Di Daman-e-koh kita bisa melihat bentangan lurus jalan Seventh Avenue sepanjang 4 kilometer. Namun anda harus hati-hati, terutama jika anda membawa bekal: puluhan monyet berkeliaran siap mencoleng bekal anda.

 

Penulis, Firos, Syuaib di Daman-e-koh dengan latar belakang Seventh Avenue
Penulis, Firos, Syuaib di Daman-e-koh dengan latar belakang Seventh Avenue

 

Bukan hanya Daman-e-koh yang menarik, tetapi juga perjalanan menuju ke sana yang berkelok, menanjak, dilengkapi pemandangan alam yang indah. Memang tidak bohong penulis Khaled Hosseini ketika menggambarkan tentang Daman-e-Koh dalam novelnya, The Kite Runner. Setelah menikmati pemandangan Daman-e-koh, kami berkendara kembali, menuruni bukit menuju lembah. Di sana ada sebuah desa tua nan bersejarah bernama Saidpur.

Desa ini dinamakan Saidpur untuk mengenang Sultan Said Khan, putra dari Sultan Sarang Khan, seorang pemimpin region Pothohar di bawah kekuasaan Babur, raja dan pendiri Dinasti Mughal yang terkenal itu. Said Khan kemudian menghadiahkan desa ini untuk putrinya yang kemudian dinikahi oleh raja Dinasti Mughal, Jahangir, anak dari raja Akbar (Abul Fath Jalaluddin Muhammad Akbar atau Akbar The Great) yang di Indonesia kita kenal lewat serial televisi Jodha Akbar.

 

Penulis di desa bersejarah Saidpur.jpg
Penulis di desa bersejarah Saidpur

 

Kunjungan saya ke Saidpur adalah yang paling berkesan. Suasana desa bersejarah dimana terdapat kuil Hindu dan gurdwara Sikh seolah melemparkan kita kepada lima abad yang lalu, ketika Akbar sang penguasa Dinasti Mughal memerintah dan mencoba upaya sinkretisasi ajaran Islam dan Hindu, dipadu dengan nilai-nilai agama Kristen, Jainisme, Sikh dan Zoroastrianism. Saya selalu tertarik melihat bagaimana rumitnya upaya sang raja untuk mewujudkan harmoni dan toleransi di antara rakyatnya. Akbar bukan hanya menciptakan harmoni (dan tentu saja kontroversi), namun juga mendorong debat-debat agama dan filsafat di dalam masyarakatnya.

 

Penulis di pintu salah satu kuil hindu di Saidpur.jpg
Penulis di pintu salah satu kuil hindu di Saidpur

 

Dari Saidpur, kami bertiga berangkat ke Pakistan Monument yang terletak di puncak perbukitan Shakarparian. Setelah menempuh perjalanan 10 km yang menanjak dan membelah hutan, kami sampai di sana. Pakistan Monument adalah simbol persatuan rakyat Pakistan. Bentuknya seperti kelopak bunga yang siap mekar. Terdapat empat struktur melengkung setinggi 15 meter yang keempat ujungnya bertemu di tengah. Jika kita berdiri tepat di bawah struktur itu, kita bisa melihat sejarah perjalanan negara Pakistan.

Di bagian dalam empat struktur melengkung yang terbuat dari granit itu kita juga bisa melihat mural dari tokoh-tokoh penting Pakistan seperti Muhammad Ali Jinnah, pendiri negara Pakistan, serta Muhammad Iqbal, sastrawan dan pemikir penting dunia Islam asal Pakistan. Di dalam komplek Pakistan Monument ini terdapat pula sebuah museum yang cukup besar. Sayangnya, ketika kami berkunjung ke sana museumnya sedang tutup. Seperti tempat publik lain di Islamabad, terdapat sebuah sumur untuk mengambil air wudhu bagi mereka yang ingin menunaikan salat.

 

Matahari tenggelam di balik Pakistan Monument.jpg
Matahari tenggelam di balik Pakistan Monument

 

Di dalam kompleks ini terdapat pula sebuah toko souvenir. Saya membeli sebuah miniatur tembaga berbentuk Pakistan Monument seharga 300 rupee, setara dengan 30 ribu rupiah. Tepat di luar pintu gerbang Pakistan Monument, puluhan pedagang kaki lima menjajakan barang mereka. Seperti di negeri kita, pemerintah Pakistan mempunyai aturan tentang para pedagang ini. Ketika kami melangkah keluar gerbang untuk pulang, para pedagang yang menggunakan gerobak ini berhamburan lari ke dalam hutan ketika melihat aparat yang ingin melakukan razia datang.

Mengingat matahari menjelang terbenam, kami memutuskan kembali ke kampus IIUI. Namun sebelum sampai di IIUI, kami singgah di Faisal Mosque. Kami memarkir motor di pinggir jalan bersama kendaraan lain yang terparkir liar. Setelah puas mengambil gambar, kami mendapati motor milik Syuaib hilang. Kami segera melapor ke pos polisi terdekat. Ternyata motor tersebut diangkut petugas karena melakukan tindakan pelanggaran ringan: memarkir kendaraan di sembarang tempat.

Awalnya ngeri juga melakukan negosiasi agar motor tersebut dikembalikan. Penyebabnya tentu saja karena polisi di Pakistan membawa senjata laras panjang hampir dimana saja, setidaknya seperti yang saya lihat. Namun akhirnya motor tersebut dikembalikan setelah saya menjelaskan bahwa saya membutuhkannya untuk pulang kembali ke hotel dan harus berada di bandara pada pukul 9 malam nanti. Mengetahui bahwa Syuaib adalah mahasiswa Indonesia, petugas tersebut akhirnya mengembalikan motor kami. Kami pun memarkir motor di parkiran resmi Faisal Mosque dan segera mengambil wudhu untuk bergabung dengan jamaah yang hendak menunaikan salat masjid. Faisal Mosque adalah masjid terbesar di Pakistan, sumbangan 120 juta dolar AS dari mendiang Raja Faisal dari Arab Saudi pada tahun 1976. Dirancang oleh arsitek Turki Vedat Dalokay, masjid ini berbentuk kubah raksasa seperti tenda orang-orang Badui, dilengkapi dengan menara setinggi 79 meter.

 

Faisal Mosque dan Tipikal Taksi di Islamabad.jpg
Faisal Mosque dan Tipikal Taksi di Islamabad

 

Seperti yang kami alami di Daman-e-koh, Saidpur dan Pakistan Monument, wajah kami menjadi perhatian bagi orang-orang Pakistan. Sekelompok pengunjung di Daman-e-koh bahkan meminta untuk berfoto bersama kami –mengira kami adalah sekelompok turis dari Cina. Setelah menunaikan salat dan berfoto di depan Faisal Mosque, kami segera mengambil langkah menuju asrama kampus IIUI. Faisal Mosque ini letaknya persis di depan gerbang kampus lama tersebut, sehingga kami hanya perlu tiga menit untuk sampai.

 

Penulis bersama Azwan dari Bangladesh membeli oleh-oleh di Islamabad
Penulis bersama teman sekamar, Azwan, dari Bangladesh membeli oleh-oleh di Islamabad

 

Setelah tiba di asrama, saya segera bertemu Abdullah, berpamitan kepada sahabat baru, Firos dan Syuaib, dan segera meluncur ke hotel Marriott untuk mengambil koper. Setiba dari hotel, saya baru tahu bahwa saya adalah peserta terakhir yang ada di sana. Sekira 200 orang peserta konferensi telah berpulang ke tempat mereka masing-masing di seluruh Pakistan, termasuk peserta dari Afganishtan, Bangladesh, Turki dan Indonesia. Dari sana saya diantar pihak hotel untuk menuju Bandara Benazir Bhutto di Rawalpindi, take off pukul 23.20 menuju Bangkok, kemudian Jakarta. Pada 8 Agustus, pukul 20.00 WITA, saya telah tiba dengan aman di Makassar dengan membawa pengalaman mengunjugi tempat menarik di Islamabad dalam sehari.

Iklan

Sumatera Barat: Museum Buya Hamka

Pada pertengahan Juli 2016, saya kebetulan ada acara bersama alumni YSEALI Academic Fellows di Kuala Lumpur, Malaysia. Tiba-tiba saya berpikir kenapa tidak berkunjung ke Sumatera? Mumpung saya sedang di kota dengan penerbangan murah ke Sumatera, pikir saya. Saya memutuskan untuk datang ke Sumatera Barat (Sumbar) dan akhirnya berkunjung ke Lubuk Basung, Maninjau dan Bukittinggi. Mengapa Sumbar? Well, mungkin karena saya menulis tentang tokoh Sumbar, yaitu Buya Hamka, di skripsi saya. Jadilah akhirnya saya berangkat dari Kuala Lumpur ke Sumbar dengan membeli tiket pulang-pergi KL-Padang seharga kurang lebih 550.000 rupiah. Murah kan!

DCIM100GOPROGOPR4263.
Berangkat dari Lubuk Basung menuju Danau Maninjau
GOPR4268.JPG
Singgah di sebuah masjid di pinggiran Danau Maninjau, bersama Rizky Kurniawan, host Couchsurfing saya di Agam

Fast forward, setelah menghabiskan semalam di Lubuk Basung bersama teman Couchsurfing saya, Rizky Kurniawan, kami berangkat ke Sungai Batang, sebuah nagari yang terletak di pinggir Danau Maninjau. Di Sungai Batang inilah Hamka lahir dan rumah kelahirannya itu yang dijadikan Museum Buya Hamka. Dari Lubuk Basung kami naik sepeda motor selama kurang lebih 80 menit. Dikarenakan letak Sungai Batang yang berada di sisi berseberangan dari Danau Maninjau, kami harus mengitari danau tersebut selama kurang lebih 45 menit. Setelah sempat sempat bertanya kepada warga sekitar, akhirnya tibalah jua kami di Sungai Batang, di Museum Buya Hamka.

DCIM100GOPROGOPR4280.
Inilah penampakan saya Museum Buya Hamka!

Ternyata museumnya belum buka, saudara-saudara! Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu saja, sambil menonton pertunjukan gratis seekor beruk memetik buah kelapa di halaman rumah seberang museum. Di samping museum ini ada gedung kecil yang didedikasikan sebagai tempat membaca. Gedung tersebut ternyata merupakan sumbangan dari ABIM, alias Angkatan Belia Islam Malaysia. Perhatian yang diberikan ABIM ini patut diapresiasi. *jempol, Bim!*

GOPR4281.JPG
Pemandangan Danau Maninjau -yang tertutup pohon, lol- dari Museum Buya Hamka. Di balik pohon kelapa sebelah kiri ada seekor beruk yang tengah memetik kelapa. Percayalah

Di depan museum ini ada sebuah rumah yang menjual buku-buku tentang atau ditulis oleh Hamka. Di sini saya membeli novel Terusir dan Merantau ke Deli Dua-duanya karya Hamka. Akhirnya setelah menunggu kurang lebih sejam setengah, datanglah si penjaga museum. Kami berdua menjadi pengunjung pertama hari ini. Saya pun masuk dan memperkenalkan diri sebagai pengunjung dari Makassar.

Mari kita bicara soal museumnya..

Bangunan museum ini terdiri dari satu lantai saja dengan konstruksi sekitar 90% terdiri dari kayu. Di bawah lantai dasar tersebut ada sebuah ruang setinggi kurang lebih 130 cm. Kalau di Makassar, ruang seperti itu akan ditempati ayam atau anjing. Isi museumnya sendiri terkesan sederhana, diisi dengan foto-foto dan buku-buku karya Hamka dari berbagai edisi dan bahasa. Meski begitu, menurut saya museum ini cukup representatif untuk menggambarkan kehidupan Hamka. Di dinding kayu museum tersebut tertempel berupa-rupa piagam dan tanda penghargaan dari para pengunjung mancanegara.

Jika berkunjung ke museum, anda akan bertemu dengan pak Hanif Rasyid. Beliau adalah anak kandung dari A. R. Sutan Mansur yang berarti ia adalah keponakan Hamka. Sutan Mansur menikah dengan kakaknya Hamka yang perempuan. Pak Hanif Rasyid ini orangnya sangat ramah, dan anda bisa berbicara panjang lebar tentang sejarah Sumatera Barat serta tentang Hamka sendiri. Di meja registrasi itu ia juga menjual makalah terjilid yang tentang kehidupan Hamka yang ia susun sendiri. Di situ juga dijual sebuah CD (compact disk) yang berisi kumpulan ceramah Hamka di RRI dan tempat lain.

Secara umum, museum ini sudah hampir mendekati predikat representatif. Hal yang miris sebenarnya adalah ketika saya menanyakan sumber dana pengelolaan museum ini. Pak Hanif Rasyid mengaku bahwa dana pengelolaan museum didapatkan dari keluarga besar dan sumbangan pengunjung, sedangkan Pemerintah Kabupaten Agam sendiri belum pernah memberikan kontribusi ataupun bantuan kepada museum tersebut. Sayang sekali, pikirku, padahal organisasi semacam ABIM pun membantu, bahkan membangun sebuah bangunan sebagai tempat membaca buku.

Setelah berbincang kurang lebih dua jam, saya meminta izin ke pak Hanif untuk melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Di perjalanan menuju Bukittinggi saya masih terpikir tentang museum ini. Bukan apa-apa, meskipun sejarawan James R. Rush pada Juni 2016 menerbitkan biografi baru tentang Hamka, namun kelihatannya kajian para sarjana sosial (terutama sejarawan) dari luar Indonesia semakin sedikit. Apalagi setelah sejarawan Jeffrey Hadler meninggal beberapa pekan lalu. Jadi jika Pemerintah Kabupaten Agam sendiri, atau bahkan Gubernur Irwan Prayitno tidak membantu secara langsung keberadaan museum semacam ini, sepertinya pantas saja jika minat para sejarawan dan ilmuwan sosial sudah tidak sekuat dulu pada Sumatera Barat.

Ketika mobil yang saya tumpangi terus menanjak dan melewati Kelok 44 menuju Bukittinggi, saya berdoa semoga ketika saya kembali lagi, keadaan sudah semakin baik.

Bontokaddopepe, 6 Februari 2017

 

Resensi Buku: Twilight Over Burma, karya Inge Sargent

Judul                    : Twilight Over Burma: My Life as a Shan Princess
Penulis                 : Inge Sargent
Penerbit               : University of Hawaii Press, Honolulu, Hawaii
Tebal                    : xxiv + 216 halaman
Tahun terbit        : 1994
Harga                   : + USD 5

Buku pembuka saya tahun ini, Twilight Over Burma: My Life as a Shan Princess, karya Inge Sargent.

15844402_723539937804763_651483352788029968_o

Sebuah kisah nyata. Buku ini diterbikan oleh University of Hawai’i Press, 1994. Sebuah film telah dibuat dengan judul yang sama pada Mei 2016 -filmnya dicekal di Myanmar dan Thailand. Saya rangkumkan kisahnya sebagai berikut.

Pada 1951, Inge Eberhard, seorang gadis yang berasal dari Carinthia, Austria, mendapatkan beasiswa Fulbright dari Pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas Denver, Colorado. Suatu hari di perjamuan makan malam, ia bertemu dengan Sao Kya Seng (1924-1962), mahasiswa dari Colorado School of Mines, Universitas Denver yang berasal dari Hsipaw, Shan State, Burma (sekarang: Myanmar). Singkat cerita, pertemuan dua mahasiswa tersebut berlanjut: mereka jatuh cinta, dan memutuskan untuk menikah. Namun di tengah interaksi mereka di Amerika, Inge sempat terheran: mengapa seorang mahasiswa dari Burma bisa mempunyai mobil mewah, dan mengendarainya ke kampus?

Pada awal Januari 1954, mereka pulang ke Burma dengan kapal SS Warwickshire yang berlayar menuju Rangoon (sekarang: Yangon). Menjelang kapal merapat di Pelabuhan Rangoon, terlihat puluhan orang berdiri, termasuk mereka yang menyambut di atas sampan kecil berhias bunga. Orang-orang berbaris dengan pakaian bewarna rupa: merah, kuning, hijau, biru. Inge terheran, sebagaimana orang-orang di atas SS Warwickshire: siapakah orang besar yang datang? Ketika Inge bertanya, Sao Kya Seng mengajak ia ke ruang makan, lalu memberitahu Inge bahwa orang-orang itu menyambut mereka berdua.

Baru di saat itu Inge tahu bahwa pemuda yang baru menikahinya adalah seorang pangeran, tepatnya Prince of Hsipaw, yang membawahi seluruh wilayah Shan State. Ia adalah Saophalong, dan orang-orang tadi adalah masyarakat Hsipaw yang bersafar 800 km ke Rangoon untuk menyambut mereka. Ketika sampai di Hsipaw, Sao Kya Seng dilantik kembali sebagai Prince of Hsipaw pada tahun 1959, dan Inge Berhard sebagai Princess of Hsipaw, dengan nama baru: Nao Sang Thusandi. Orang-orang Hsipaw memanggil istri pangeran mereka sebagai Mahadevi (Mahadewi).

Ia menjadi anggota Chamber of Nationalities pada tahun 1954-1962, semacam Senat Burma waktu itu. Dari tahun 1954 sampai 1962, ia menjabat sebagai anggota Konsil Shan State dan sekretaris Asosiasi Pangeran-Pangeran Shan. Ia ditangkap pada 1962, setelah kudeta militer yang dipimpin Jenderal Ne Win. Menurut beberapa saksi, Sao Kya Seng terakhir terlihat di sebuah kamp penahanan di sebuah checkpoint di dekat Taunggyi.

Kisah ini adalah sumber primer dari Inge Eberhard, Mahadewi terakhir dari Hsipaw, sekaligus istri dari pangeran terakhir Hsipaw. Pada 1966, Inge pindah ke Amerika Serikat (setelah sebelumnya lari ke Austria). Ia pindah ke AS bersama kedua putrinya, Mayari dan Kennari, menyelesaikan sekolah dan menjadi guru. Ia kemudian mendirikan organisasi yang berfokus menangani pengungsi dari Burma, dan masih dianggap orang-orang Shan sebagai Mahadewi mereka. Ia menikah kembali pada 1968 denga Howard Sargent dan mengubah namanya menjadi Inge Sargent.

Setiap tahun, Kennari dan Mayari, mengirim surat kepada Pemerintah Myanmar untuk meminta informasi tentang keadaan sebenarnya dari ayah mereka, Sao Kya Seng. Namun hingga saat ini surat-surat itu belum pernah terbalas. Inge Sargent dan kedua putrinya masih hidup di dekat Boulder, Colorado, Amerika Serikat.

Bontokaddopepe, 5 Februari 2017

Tiga Hari di Punaga

Punaga, sebuah desa yang terletak di daerah paling selatan di jazirah Sulawesi Selatan. Jika dibuka di peta, desa ini berada di ujung jari kaki kiri Sulawesi Selatan bersama dengan Laikang dan Teluk Puntondo. Punaga yang pantainya menjadi tempat syuting film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck pada tahun 2013 lalu ini merupakan kampung tempat tinggal sahabat saya sejak SMA, Irsak. Sewaktu SMA, kami mempunyai tim beranggotakan tiga orang (bersama Rukman Muslimin) yang aktif mengikuti berbagai macam kompetisi ilmiah antar SMA di kota Makassar. Kami sering berkunjung ke Punaga dan Puntondo untuk melakukan penelitian (yang lebih tepat disebut studi pustaka) tentang kerusakan terumbu karang di Pantai Punaga. Di Puntondo, kami selalu mengunjungi PPLH Puntondo untuk mencari sumber pustaka di perpustakaan mereka. Di perpustakaan itu ada banyak sekali majalah National Geographic yang harganya memang tidak bisa kami jangkau waktu itu. Saya masih merasa berdosa, ada sekitar 4-6 buah majalah yang saya ‘pinjam’ -namun belum saya kembalikan hingga sekarang, 7 tahun berlalu. Haha.. Kami juga kenal dengan pak Kasim, alumni Fakultas Kelautan Unhas yang merupakan warga asli Puntondo, menikah dengan perempuan Puntondo dan tinggal di sana. Pak Kasim pernah kami jadikan pembimbing penulisan karya tulis kami tentang kerusakan terumbu karang di Punaga.

Sekitar dua pekan lalu, saya mengunjungi lagi Punaga dan Puntondo. Kali ini saya berangkat bersama pak Dicky Sofjan, mba Any (juga di ICRS), pak Supa (dosen Sastra Arab Unhas) dan mas Imran (mahasiswa S3 ICRS, asli Gowa). Saya pernah bekerja di IIWS (Indonesian Interfaith Weather Station) dengan pak Dicky sebagai principal investigator-nya. Kedatangan pak Dicky dkk ke Makassar adalah untuk meluncurkan edisi Bahasa Indonesia buku terbarunya, “Agama, Kebijakan Publik dan Transformasi Sosial di Asia Tenggara“, yang digelar tanggal 24 Januari 2017 di Fakultas Sastra Unhas.

Kembali ke Punaga.

Tujuan ke Punaga adalah untuk melakukan semacam preliminary research terhadap komunitas Sayyid dan perayaan tahunan Maudu’ Lompoa alias Maulid Besar di Cikoang, Takalar. Karena tidak ada kenalan di Cikoang, kami menginap di rumah Irsak di Punaga, sekitar 2 km dari Cikoang.

16252493_1225778167511877_3662386370429656984_o.jpg

Gambar: Di depan rumah Irsak di Punaga. Kiri ke kanan: pak Dicky, ibunya Irsak, Haji Sirajuddin Noto (ayahnya Irsak), mba Any Marsiyanti, Irsak, pak Supa, dan saya. (Photo credit: Dicky Sofjan)

Di Cikoang, kami awalnya mendatangi rumah Tuan(g) Jama’, namun Tuang Jama’ menyarankan kami untuk mendatangi Karaeng Opua, pemimpin komunitas Sayyid di Cikoang. Namun ternyata Karaeng Opua sedang sakit, sehingga Tuang Jama’ membawa kami ke tokoh Sayyid yang lain, yaitu Tuang Molla. Di sinilah kami akhirnya mewawancarai Tuang Molla dan seorang tokoh Sayyid yang saya lupa namanya -dia berperan sebagai ‘eksekutor’. Sang Sayyid eksekutor tersebut bertugas untuk melaksanakan keputusan adat komunitas Sayyid bagi mereka yang melanggar. Sebagian besar pelanggaran tersebut berkaitan dengan masalah pernikahan.

Adat di komunitas Sayyid di Cikoang tidak memperbolehkan laki-laki keturunan non-Sayyid menikahi perempuan keturunan Sayyid, namun laki-laki keturunan Sayyid bisa menikahi perempuan di luar komunitas mereka. Memang sangat patriarkal, namun begitulah adat mereka. Konsuekuensinya, mereka yang melanggar harus bersedia meninggalkan Cikoang (dan daerah sekitarnya) dan mengangkut semua harta benda yang mereka miliki, termasuk rumah. Dalam pelaksanaan sanksi adat tersebut, para pelanggar adat akan diberikan peringatan hingga tiga kali dari dewan adat. Jika setelah peringatan ketiga para pelanggar adat tersebut tidak menghiraukan peringatan tersebut, maka eksekutor dan dewan adat -dengan didukung kepatuhan masyarakat non Sayyid- akan mengusir secara paksa para pelanggar, dan rumah mereka di Cikoang akan dirobohkan jika belum dipindahkan.

16300228_1225778054178555_4069365309962268144_o.jpg
Ki-ka: Bu Any, Ihsan, Sayyid sang eksekutor (saya lupa namanya), Tuang Molla, pak Dicky, pak Supa, dan seorang warga Cikoang. (Photo Credit: Dicky Sofjan)

Wawancara kami berlangsung kurang lebih satu jam saja. Setelah itu, kami meluncur ke Puntondo, tepatnya di Pusat Perlindungan Lingkungan Hidup Puntondo. Irsak yang duduk di kursi depan mobil yang kami pakai membuat kami bisa masuk ke PPLH Puntondo secara gratis. Di sinilah dulu majalah-majalah NatGeo yang saya sebut di atas saya ‘pinjam’ -hingga kini, hahaha. Namun yang jelas, tempat ini semakin hari semakin mempesona saja. Sayangnya saya tidak sempat mengambil banyak gambar. Bagi pembaca yang tertarik, bisa melihat di sini atau di sini. Tempatnya sangat nyaman sekali untuk menikmati waktu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menjelang hari sore, kami pulang kembali ke Punaga. Namun sebelumnya kami singgah dulu di tempat yang dinamakan ‘Barugaya’. Di tempat inilah Zainuddin dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tinggal dan meminta izin kepada Mak Basse, pengasuhnya, untuk berangkat ke Batipuh, Sumatera Barat, untuk belajar agama di kampung halaman almarhum ayahnya, Pandekar Sutan. Saya pernah menulis tentang TKVDW di sini. Sayangnya hape saya lowbatt sehingga tidak ada gambar yang bisa saya ambil. Namun berikut gambar-gambar seperti yang ada di film tersebut. Film TKVDW bisa ditonton secara streaming atau diunduh di sini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hal yang tidak bisa kami lewatkan di Punaga tentu saja: seafood. Saya baru sadar kalau ikan laut dianggap makanan yang cukup mewah bagi orang Jawa, terutama mereka yang jauh dari laut. Sedangkan kami di Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya, setiap hari kami makan ikan laut -ayam dalam berbagai bentuk olahan memiliki kedudukan yang lebih ‘mewah’. Di rumah Irsak, kami betul-betul dihidangkan dengan seafood terenak di Sulawesi. Ikannya langsung kami beli di Punaga, sekitar 50 meter dari rumah Irsak. Kami juga makan ikan Pari!

16251784_1225777524178608_836412248422055983_o.jpg
Sarapan di hari ketiga di rumah Irsak. Kika: Makka, Irsak, pak Imran, bu Any, pak Dicky, pak Supa, dan saya. (Photo credit: Dicky Sofjan)

Kami juga dihidangkan kelapa muda segar oleh Haji Noto. Pohon kelapa yang tingginya 15-20 meter itu biasanya dipanjat oleh anak berusia 10-14 tahun. Terima kasih kepada adik Ballacu’ (ya, ini nama pemanjat kami) yang telah memanjat dua pohon kelapa dan membuat kami kekenyangan. Oh iya, ternyata si Ballacu’ ini memang dikenal sebagai pemanjat kelapa. Anak yang kira-kira berusia 13 tahun ini diberi upah 5000 rupiah untuk setiap pohon kelapa yang dia panjat.

Akhirnya hari ketiga, 22 Januari 2017, kami meminta izin kepada Haji Sirajuddin Noto dan keluarga untuk pulang kembali ke Makassar. Keluarga ini betul-betul memegang prinsip orang Makassar dalam menghormati tamu: anda tidak bisa pulang sebelum betul-betul kenyang. Semoga kami bisa kembali lagi ke Punaga, sebuah surga tersembunyi di jemari kaki kiri Sulawesi Selatan.

Berikut timelapse matahari tenggelam di Pantai Punaga, Takalar.

Bontokaddopepe, 5 Februari 2017

Pembuka

Mengapa blog baru? Itu yang ditanyakan beberapa teman. Blog ini dibuat untuk menampung tulisan ringan dari saya. Saya selalu ingin menulis hal-hal ringan yang sempat hinggap di kepala. Hampir tiap hari, namun saya enggan menuliskannya di blog WordPress saya yang sudah ada sebelumnya karena blog tersebut sudah terlanjur saya isi dengan tulisan yang serius.

tumblr_oj8qaq6smn1ubewhso1_1280
Twilight Over Burma, karya Inge Sargent. Saya mendapatkan otobiografi ini di toko buku dekat Pasar Aung San, Yangon, Myanmar.

Sebagai solusi, saya buatlah blog ini. Saya akhirnya mempunyai tiga blog yang aktif, dua di WordPress dan satu di Tumblr. Blog ini rencananya akan saya isi lebih banyak dengan cerita ringan dan sastra. Saat ini saya sedang membaca karya sastra Burma (Myanmar) generasi 1950-an seperti Min Thu Wun dan juga beberapa karya kontemporer seperti From The Land of The Green Ghostsnya Pascal Khoo TweeTwilight Over Burmanya Inge Sargent sampai Freedom from Fear dan Letters from Burma karya Aung San Suu Kyi dan mendiang suaminya, sejarawan Michael Aris.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Bontokaddopepe, 4 Februari 2017